komisi x dewan perwakilan rakyat tidka puas melalui kinerja kementerian pendidikan dan kebudayaan setelah menikmati permasalahan dalam pelaksanaan ujian nasional hampir di berbagai provinsi.
fakta berbicara lain, sehingga kami berbagai dalam komisi x amat kecewa melalui un dan kacau ini. padahal semua kali mencatat katanya persiapannya sudah matang, tapi yang terjadi hingga hari ini berbalik kan, kata wakil ketua komisi x dpr ri syamsul bahri ketika berdialog melalui jajaran pemprov sulawesi selatan dalam ruang pola kantor gubernur sulsel pada makassar, senin.
ia mengatakan permasalahan un di 2013 tidak bisa terulang dulu selama tahun-tahun kedepan.
pihaknya berharap terhadap kemendikbud agar bisa menjelaskan permasalahan itu untuk mereka tidak mengulangnya di tahun mendatang.
Informasi Lainnya:
komisi itu telah melayangkan surat panggilan pada mendikbud muhammad nuh supaya memberikan penjelasan serta pertanggungjawaban pada dpr mengenai dengan pelaksanaan un 2013.
kita hendak minta klarifikasi jumat (26/4) malam nanti. apa masalahnya, tergolong sentralisasi percetakan sehingga un amburadul begini, bagaimana dan terjadi juga apa rencana mereka kepada un 2014, kata syamsul dan disertai beberapa anggota dpr ri dalam antaranya vena melinda, ulfah hermanto, dan ahmad zainuddin.
ia menyatakan sampai ketika ini masih ada pihak dan memperdebatkan soal teknis un. perdebatan tersebut mulai dari pencetakan naskah ujian yang tersentralistik sampai materi teknis lainnya.
dpr, katanya, setuju dengan un yang dijadikan dijadikan ukuran pemerataan studi.
akan tetapi, terkait melalui hasil un yang ingin sebagai untuk tiket supaya masuk ke perguruan tinggi, dia menyatakan perlunya kemendikbud meninggalkan ukuran dan lain, tanpa menyaksikan hasil un.
hasil un tersebut tak mencerminkan nilai siswa yang sebenarnya dan ini yang merupakan tantangan kita bersama. harus ada ukuran lain selain daripada hasil un itu, katanya.
ketua dewan studi sulsel professor halide yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan berang melalui amburadulnya pelaksanaan un dan hampir terjadi dalam berbagai provinsi.
ia mengatakan pesan melalui komisi x dpr tersebut untuk diutarakan terhadap kemendikbud mengenai kekecewaan kepada pelaksanaan un.
ia mengaku dari awal tak pernah setuju manakala pencetakan un mesti dipusatkan dalam jakarta.
alasan penolakan itu, katnaya, karena letak geografis, terlebih dalam indonesia bagian timur dan cukup besar agar distribusi soal ujian.
ia mengajarkan un dan dilaksanakan serentak dengan mencetak naskah un dan tersentralisasi selama jakarta, mau berpengaruh dalam distribusi.
dari januari 2012 saya suda sampaikan ke kemendikbud mengenai risiko sentralisasi percetakan, saya bilang tinjau ulang, namun sebab tak didengar dengan demikian beginilah hasilnya, katanya.
ia menjelaskan kondisi geografis pada indonesia pihak timur, antara lain berupa kepulauan, pegunungan, dengan infrastruktur jalan yang masih kurang baik sehingga distribusi soal ujian membutuhkan masa dan lama.
dia menyampaikan yang dituntut agar badan standar nasional pendidikan (bsnp) serta badan penelitian dan pengembangan (litbang) kementerian studi dan kebudayaan bertanggungjawab atas permasalahan tersebut.
ia menyampaikan persoalan itu bukan semata-mata kesalahan kemendikbud.
bsnp juga litbang kemendikbud, selain pak menteri yang paling bertanggungjawab. ini dikerjakan bersama-sama serta disepakati bersama, sehingga seluruh harus bertanggungjawab, katanya.
halide juga mempertanyakan alasan kemendikbud dan tak mengerjakan kontrak melalui percetakan terkait agenda un.
seharusnya, ujarnya, kemendikbud memberikan kontrak dan gamblang, termasuk kapan soal dicetak serta masa didistribusikan ke daerah.
selain tersebut, halide mengemukakan kiranya pengawas sekolah bukan hanya diselenggarakan dengan guru, mau akan tetapi petugas bagian tata upaya-upaya serta terpaksa menurun tangan.
oleh sebab tersebut, dia harapkan pada komisi x dpr agar bisa menyatakan hal tersebut terhadap mendikbud untuk kementerian tersebut melayani saran-sarannya untuk bahan evaluasi untuk tidak terjadi kekacauan un, seperti saat ini.